Minggu, 14 April 2013

Model-Model Pembelajaran



A.    Pengertian Model Pembelajaran
Joyce dan Weil (dalam Rusman: 2010: 133) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merencanakan bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

1.      Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002).
CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru (Johnson, 2002). Prinsip pembelajaran kontekstual sebagai berikut.
a.      Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
b.      Menemukan (Inquiry)
Menemukan, merupakan bagian inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.
c.      Bertanya (Questioning)
Melaui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan lebih banyakditemukan unsur-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun siswa.
d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya.

2.      Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang ersifat heterogen.
Model Model-Model Pembelajaran Kooperatif.
a.      Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model STAD menurut Slavin (2007) merupakan variasi dari pembelajaran kooperatif yang paling banyak diteliti. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Guru memberikan pelajaran dan siswa-siswa di dalam kelompok memastikan bahwa semua anggota kelompok menguasai  pelajaran tersebut.  Akhirnya semua siswa menjalani kuis perseorangan tentang materi tersebut, dan pada saat itu mereka tidak boleh saling membantu satu sama lain.
b.      Model Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen kecil. Dalam kelompok ini siswa-siswa bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam (a) belajar menjadi ahli dalam subtopic bagiannya, (b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula, setelah itu, siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopic tersebut kepada temannya. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topic secara keseluruhan.
c.      Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Secara umum perencanaan pengorganisasian kelas dengan menggunakan teknik kooperatif GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap kelompok bebas memilih subtopic dari keseluruhan unit materi (pokok bahasan) yang akan diajarkan, dan kemudian membuat atau menghasilkan laporan kelompok. Selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling bertukar informasi temuan mereka (Burns, et al).
d.      Model Make a Match (Membuat Pasangan)
Penerapan metode ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokan kartunya diberi poin.
e.      Model TGT (Teams Games Tournaments)
Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan anggota-anggota tim lain untuk  memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaiatan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).
f.       Model Struktural
Dalam pembelajaran kooperatif  tipe pendekatan structural terdapat enam komponen yaitu struktur dan konstruk yang berkaitan, prinsip-prinsip dasar, pembentukan kelompok dan pembentukan kelas, kelompok, tata kelola dan keterampilan sosial.

3.      Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
Boud dan Feletti (1997) mengemukakan bahwa PBM adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson (1994) mengemukakan bahwa kurikulum PBM membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola berpikir yang terbuka, reflektif, kritis dan belajar aktif.
4.      Model PAKEM (Partisipatif, Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan)
PAKEM berasal dari konsep bahwa pembelajaran harus berpusat pada anak (student centered learning) dan pembelajaran harus bersifat menyenangkan (learning is fun), agar mereka termotivasi untuk terus belajar sendiri tanpa diperintah dan agar mereka tidak merasa terbebani atau takut. Dengan pelaksanaan pembelajaran PAKEM, diharapkan berkembangnya berbagai macam inovasi kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bersifat partisipatif, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

5.      Model Pembelajaran Lesson Study
Lesson Study merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi, dan melaporkan hasil refleksi kegiatan pembelajarannya.

6.      Model Pembelajaran Mandiri
Dalam belajar mandiri, menurut Wedemeyer (1983), peserta didik yang belajar secara mandiri mempunyai kebebasan untuk belajar tanpa harus menghadiri pembelajaran yang diberikan guru atau pendidik di kelas. Tugas guru atau instruktur dalam proses belajar ini ialah menjadi fasilitator, yaitu menjadi orang yang siap memberikan bantuan kepada peserta didik bila diperlukan.
Model-Model pembelajaran Mandiri
a.      Model SAVI (SomaticsAuditor Visual Intelektual)
Dave Meier menyajikan suatu sistem lengkap untuk melibatkan kelima indera dan emosi dalam proses belajar yang merupakan cara belajar secara alami yang dikenal dengan model SAVI. Somatis artinya belajar dengan cara bergerak dan berbuat. Auditori, belajar dengan berbicara dan mendengar. Visual, artinya belajar mengamati dan menggambarkan. Intelektual, artinya belajar dengan memecahkan masalah dan menerangkan.
b.      Model M-A-S-T-E-R (Mind, Acquire, Search Out, Trigger, Exhibit, Reflect)
Rose dan Nicholl memperkenalkan satu model belajar yang dikenal dengan M-A-S-T-E-R, yaitu para pembelajar mulai menyadari bahwa belajar bukan sesuatu yang dilakukan untuk pembelajar dan hanya pembelajar yang dapat melakukannya.

7.      Model Pembelajaran Berbasis Web (E-Learning)
Pembelajaran berbasis web dapat didefinisikan sebagai aplikasi teknologi web dalam dunia pembelajaran untuk sebuah pendidikan. Secara sederhana dikatakn bahwa semua pembelajaran dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet dan selama proses belajar dirasakan terjadi oleh yang mengikutinya, maka kegiatan itu dapat disebut sebagai pembelajaran berbasis web. Kemudian yang ditawarkan oleh teknologi ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya tempat dan waktu untuk mengakses informasi.

8.      Model Pembelajaran Tematik
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) model pembelajaran untuk anak tingkat Sekolah Dasar kelas rendah, yaitu kelas 1,2 dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema-tema (tematik). Tema merupakan wadah atau wahana untuk mengenalkan berbagai konsep materi kepada anak didik secara menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud menyatukan konten kurikulum dalam unit-unit atau satuan-satuan yang utuh dan membuat pembelajaran lebih terpadu, bermakna dan mudah dipahami oleh siswa SD/MI.


35 komentar:

  1. Hayatul Mursyida
    A1B110212


    Oke... saya ingin bertnya pda kelompok.Ssebenarnya yg paling tepat itu PAKEM atau PAIKEM ya???
    Sebab ada yg menyebutkn PAKEM dan ada pula yg menyebutnya PAIKEM.
    Mohon jawabnnya yaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. NURUL HIDAYAH
      NIM A1B110224
      Pada umumnya PAKEM dan PAIKEM mengandung arti yang sama. Perbedaannya hanya adanya tambahan huruf ‘I’ dari PAIKEM yang kepanjangannya adalah inovatif.
      PAKEM berarti Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
      Aktif berarti proses belajar mengajar guru dapat membuat siswa aktif dalam bertanya atau mengemukakan pendapat.
      Kreatif berarti adanya suasana kegiatan belajar yang beragam.
      Efektif berarti proses belajar mengajar dapat membuat siswa memahami materi pelajaran yang diajarkan.
      Menyenangkan berarti kondisi kegiatan belajar mengajar yang diciptakan sedemikian rupa agar siswa tidak pasif di kelas, memiliki perasaan tertekan, atau merasa bosan dalam belajar.
      Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), inovatif berarti guru menggunakan metode pembelajaran yang baru untuk meningkatkan semangat siswa dalam proses belajar mengajar.

      Hapus
    2. Terima kasih kepada Harmah dan Nurul Hidayah

      Pakem dan Paikem itu mempunyai karakteristik yang sama, metode awalnya emang Pakem yang mengalami perkembangan menjadi Paikem yang menambahkan metode inovatif di dalam Pakem itu sendiri. inovatif di sini berguna untuk menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara meng- integrasikan media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses pembelajaran tersebut. Sehingga, terjadi proses renovasi mental, di antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pelajaran, software multimedia, dan microsoft power point merupakan salah satu alternatif.
      (Syah dan Kariadinata (2009: 16 media online)

      Pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan masalah. Siswa yang seperti ini mampu menggunakan penalaran yang jernih dalam proses memahami sesuatu dan piawai dalam mengambil pilihan serta membuat keputusan. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman interkoneksi di antara system atau subsistem terkait dengan persoalan yang dihadapinya. Juga terlihat kemampuan mengidentifikasi dan menemukan pertanyaan tepat yang dapat mengarah kepada pemecahan masalah secara lebih baik. Informasi yang diperolehnya akan dikerangkakan, dianalisis dan disintesiskan sehingga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik.

      Hapus
  2. Nama : Harmah
    NIM : A1B110211

    Saya mencoba menjawab pertanyaan dari saudara HM . Menurut saya, seperti yang kita ketahui berubahnya kurikulum model-model pembelajaran akan berubah contohnya dari PAKEM menjadi PAIKEM dimana perubahan tersebut terdapat dari kata "INOVATIF" dalam suatu pembelajaran. Pembelajaran yang inovatif akan secara alami terbentuk jika pembelajaran aktif, kreatif, dan efektif, dapat terlaksana dengan baik. semangat inovatif dapat ditumbuhkan melalui kegiatan-kegiatan sekolah yang sifatnya "Berpetualang", "Memecahkan Masalah", dan sebagainya.

    Contoh : Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat dikemas melalui kunjungan kelapangan, misalnya ke kantor polisi untuk mewawancarai kantor polisi, atau ke pasar untuk mewawancarai pedagang yang sukses.
    Dalam pembelajaran tersebut ketika dilapangan, siswa akan lebih memperoleh pengalaman yang jauh lebih berharga, lebih bervariasi, lebih luas dan lebih dalam.

    BalasHapus
  3. KUSNIATI ANDRIANI
    NIM A1B110215

    Pembahasan kelompok mengenai model-model pembelajaran yang ingin saya tanyakan adakah kelemahan dan kelebihan setiap model pembelajaran jika ada jelaskan? trmks :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk menjawab pertanyaan dari saudara Kusniati Andriani lihat postingan kami yang paling atas, karena karakternya terbatas makanya tidak bisa mempostkan balasannya di komentar ini.

      Hapus
  4. SAPERIAH
    NIM A1B110243


    Sedikit menambahkan tentang kelebihan dan kelemahan model pembelajaran Lesson Study.

    Kelebihan model pembelajaran Lesson Study, seperti yang saya kutip dalam http://sumut.kemenag.go.id/file/file/TULISANPENGAJAR/akzh1343183231.pdf adalah sebagai berikut.
    a. Meningkatnya pengetahuan guru tentang cara mengobservasi aktifitas belajar siswa.
    b. Menguatkan hubungan kolegalitas baik antara guru maupun dengan observer selain
    guru.
    c. Menguatnya hubungan antara pelaksanaan pembelajaran sehari-hari dengan tujuan
    pembangunan jangka panjang.
    d. Meningkatnya motivasi guru untuk senantiasa berkembang.
    e. Meningkatnya kualitas rencana pembelajaran misalnya bahan ajar, teaching materials
    (hand on) dan strategi pembelajaran.

    Sedangkan kelemahan model pembelajaran Lesson Study, seperti yang saya kutip dalam http://blog.uny.ac.id adalah sebagai berikut.

    a. Jumlah siswa dalam satu kelas sangat banyak, menyulitkan mengenal karakteristik siswa satu persatu. Artinya, model pembelajaran ini agak sulit jika dilaksanakan dalam kelas yang jumlah siswanya banyak.
    b. masih ada beberapa siswa yang belum dapat mengubah cara pembelajarannya, dan belum tersentuh/terperhatikan oleh guru.
    c. Masih terikatnya guru dan siswa pada buku paket sebagai sumber pembelajaran, sehingga pengetahuan siswa terbatas.
    d. Sarana pembelajaran masih terbatas, belum memanfaatkan multi media.
    e. Jumlah jam mengajar guru di tiap sekolah sangat banyak, sehingga pada setiap kali mengikuti on-service selalu meninggalkan jam pelajaran di sekolah.
    f. Keberadaan sekolah tempat on-service yang jauh dari lokasi tempat tinggal guru.

    BalasHapus
  5. RUMIATI
    NIM A1B110226

    Saya ingin bertanya, bagaimana Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) dan Model Pembelajaran Lesson Study itu, tolong jelaskan karena saya masih kurang mengerti penjelasan di atas.Terima kasih…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah yang kontekstual dan tidak sederhana kepada siswa sehingga memungkinkan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, dan menemukan pengetahuan konsep esensial dari materi ajar.

      Ciri-Ciri Pembelajaran
      1. PBM Pembelajaran berpusat dengan masalah
      2. Masalah yang di gunakan merupakan dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi dalam kerja propesional mereka di masa depan.
      3. Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh siswa saat proses pembelajaran disusun berdasarkan masalah.

      Lesson study merupakan pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif, dimana para guru lain dapat memberikan pandangan-pandangan guna memberikan solusi tentang kendala-kendala yang dihadapi siswa. Pandangan dari banyak guru dapat meningkatkan wawasan siswa, diantaranya adalah dengan mengintegrasikan pandangan-pandangan dari sudut pandang keilmuan yang berbeda.
      Lesson study merupakan salah satu bentuk pembinaan guru yang dapat dilakukan untuk peningkatan profesionalisme guru. Lesson study dilakukan di wilayah guru mengajar dengan menggunakan kelas dalam lingkungan nyata, sehingga akan membiasakan guru bekerja secara kolaboratif baik dengan guru bidang studi atau dengan guru lain di luar bidang studi, bahkan dengan masyarakat.

      Tahap lesson study
      1. Tahap Perencanaan
      Pada tahap ini, para guru yang tergabung dalam lesson study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

      2. Tahap Pelaksanaan
      Pada tahap ini terdapat dua kegiatan yaitu, kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan salah seorang guru yang disepakati atau atas permintaan diri sendiri untuk mempraktikkan perencanaan pembelajaran yang telah disusun bersama dan kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota komunitas lesson study yang lainnya.

      3. Tahap Refleksi
      Kegiatan refleksi yang dilakukan dalam bentuk refleksi yang dilakukandalam bentuk diskusi yang diikuti seluruh peserta lesson study yang dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk.

      4. Tahap Tindak Lanjut
      Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkatan proses pembelajaran.

      Hapus
  6. Normita Noprianti
    NIM A1B110232

    Assalamualaikum...
    Saya ingin meminta penjelasan tentang Model M-A-S-T-E-R (Mind, Acquire, Search Out, Trigger, Exhibit, Reflect). Mohon bantuannya teman2. Terimakasih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Model MASTER merupakan suatu langkah dalam Cara Belajar Cepat (CBC) di terapkan untuk membuat suasana pembelajaran terasa menyenangkan dan jauh dari kesan kaku. Cara belajar cepat yang dimaksudkan disini ialah usaha yang dilakukan sehingga suatu konsep dapat dipahami dengan cepat dan baik.

      M = Motivating your mind (Memotivasi fikiran)
      Rose (2002) mengatakan bahwa untuk belajar, seseorang membutuhkan keadaan fikiran yang “kaya akal”, yaitu harus rileks, percaya diri dan termotivasi. Jika dalam kondisi stres dan kurang percaya diri atau tidak melihat manfaat dari yang dipelajari, pelajaran tidak dapat berlangsung dengan baik.
      Untuk itu, guru perlu memotivasi siswa agar dapat memperoleh keadaan fikiran yang benar dalam belajar. Salah satu cara untuk memberikan motivasi adalah dengan menanamkan pada diri siswa apa manfaatnya bagi mereka dalam mempelajari suatu konsep. Sugesti-sugesti positif akan membuat siswa menjadi semangat dalam belajar dan proses pembelajaran akan terasa menyenangkan.

      A = Acquiring the information ( Memperoleh informasi)
      Rose (2002) menuliskan bahwa guru harus memberikan perhatian secara khusus kepada siswa. Ketika guru menyampaikan sejumlah cukup besar informasi baru kepada siswa maka siswa secara alamiah akan memulai memproses informasi itu dalam dirinya.

      S = Searching out the meaning (Menyelidiki makna)
      Setelah memperoleh informasi maka langkah selanjutnya adalah membimbing siswa agar dapat menyelidiki makna untuk pemahaman yang lebih mendalam. “Tujuannya bukan hanya mengalihkan pengetahuan kepada para siswa tersebut tetapi agar mereka bisa membuat makna bagi diri mereka sendiri untuk benar-benar memahami subjek itu” (Rose, 2002).

      T = Triggering the memory (Memicu memori)
      Siklus pengulangan materi sangat penting dalam belajar karena dengan pengulangan maka informasi yang didapat dapat disimpan dalam memori jangka panjang. Tahapan yang dilakukan yaitu dengan merangkum materi bersama siswa diakhir pembelajaran. Dalam hal ini, guru dan siswa dapat mengulang butir-butir materi utama yang dipelajari baik dalam bentuk pertanyaan dari guru maupun dalam bentuk tes.

      E = Exhibiting what you know (Memamerkan apa yang anda ketahui)
      Untuk mengetahui bahwa siswa telah paham dengan apa yang mereka pelajari, berikan kesempatan kepada siswa agaar mereka dapat membuktikan bahwa mereka betul-betul paham dengan apa yang meraka pelajari berikan kesempatan kepada siswa agar mereka dapat membuktikan bahwa mereka betul-betul paham terhadap konsep yang diberikan. Rose (2002) mengatakan ”jika anda mengajarkannya kepada orang lain, berarti anda betul-betul menunjukkan bahwa anda telah paham. Anda tidak hanya mengetahui, anda memilikinya”

      R = Reflecting How you’ve learned (Merefleksikan bagaimana anda belajar)
      Rose (2002) mengatakan bahwa “hakikat seorang pembelajar yang betul-betul independent adalah senantiasa peduli pada upaya untuk terus menerus meningkatkan kualitas belajarnya sendiri dan tidak dapat melakukannya tanpa berfikir tentangnya”. Ini berarti seorang pembelajar selalu berfikir apa usaha terbaik untuk memperoleh hasil yang terbaik pula. Hal ini dapat dilakukan dengan selalu mengevaluasi cara belajar setiap hari. Dengan kata lain kecerdasan intrapersonal dituntut dalam hal ini, agar kajian terhadap kelebihan dan kekurangan diri dalam belajar lebih mendalam.

      http://editopan.guru-indonesia.net/artikel_detail-21988.html


      Hapus
  7. SAPERIAH
    NIM A1B110243

    Menanggapi pertanyaan Rumiati, tetapi hanya tentang Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).

    Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) merupakan model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa/mahasiswa. PBM adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, dalam PBM, kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.

    Model pembelajaran ini memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (1) belajar dimulai dengan suatu masalah, (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa, (3) mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut pebelajar untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

    Sumber: buku "Model-Model Pembelajaran" oleh Rusman dan http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._SEJARAH/195704081984031-DADANG_SUPARDAN/Pembelajaran_Berbasis_Masalah.pdf

    Hanya itu yang dapat saya sampaikan, terima kasih...:)

    BalasHapus
  8. NAMA : JENI ARINA
    NIM : A1B110253

    kelompok sudah menjelakan mengenai Model Pembelajaran Berbasis Web (E-Learning), saya ingin bertanya bagaimana jika anak didik tidak mengenal yang namanya teknologi internet? apa perlu model pembelajaran ini ? bagi anak didik yang sekolahnya berada di pingiran kota pastikan tidak megenal yang namanya internet.bagaimana kelompok menanggapi masalah ini ?
    itu saja pertanyaan dari saya terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika anak didik tidak mengenal yang namanya teknologi internet kita tetap perlu model pembelajaran Berbasis Web (E-Learning) karena Metode pembelajaran dengan berbasis pada jaringan internet bukan merupakan hal yang baru dalam pembelajaran. E-learning merupakan salah satu contoh bagaimana penerapan metode pembelajaran dengan berbasis pada jaringan internet. E-Learning memungkinkan bagi pengajar untuk membuat variasi dalam proses pembelajaran. E-Learning juga memungkinkan bagi siswa dan pengajar yang terhambat oleh jarak dan waktu untuk bisa melakukan proses pengajaran. Dalam era global seperti sekarang ini, setuju atau tidak, mau atau tidak mau, harus berhubungan dengan teknologi khususnya teknologi informasi. Hal ini disebabkan karena teknologi tersebut telah mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebaiknya tidak ‘gagap’ teknologi. Banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa siapa yang terlambat menguasai informasi, maka terlambat pulalah memperoleh kesempatan-kesempatan untuk maju. Bagi anak didik yang sekolahnya berada di pingiran kota yang tidak megenal yang namanya internet, kita bisa mengenalkannya terlebih dahulu dengan car memberi penjelasan atau sosialisasi mengenai pengenalan pembelajaran berbasis E-Learning tersebut. Terima kasih.

      Hapus
    2. NAMA : SISWANTO ADI SAPUTRO
      NIM : A1B110233
      Menanggapi pertanyaan dari Jeni Arina

      Menurut saya perlu karena apa salahnya kalau model pembelajaran Web (E-Learning) ini diterapkan walapun sebelumnya siswa tidak mengerti tentang teknologi internet karena sekolahannya mungkin jauh dari kota sehingga hampir tidak mengenal yang namanya internet. Jadi model pembelajaran Web (E-Learning) ini perlu saja diterapkan di sekolah-sekolahan yang belum tahu tentang teknologi internet guna menambah pengetahuan bagi siswa yang awalnya tidak tahu dengan nanmanya teknologi internet menjadi tahu dan banyak hal positif lagi yang dapat bermanfaat ketika pembelajaran Web (E-Learning) di adalakan seperti siswa menjadi lebih mudah mengetahui informasi-informasi dari luar yang belum diketahui..terimakasih

      Hapus
    3. Nama: Mia Aldina Maulana
      NIM: A1B110225
      Saya akan memberi tanggapan atas pertanyaan Jeni Arina mengenai Model Pembelajaran Berbasis Web (E-Learning).
      Menurut saya:
      (Jawaban untuk pertanyaan pertama dan kedua) Jika peserta didik tidak mengenal yang namanya teknologi internet, maka peran guru lah untuk memperkenalkan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi khususnya internet karena memang sudah tugas seorang guru untuk memberikan pengetahuan, model pembelajaran ini perlu juga dilakukan agar guru dan peserta didik tidak hanya terpaku pada sumber-sumber pelajaran dari buku karena wawasan dan cakrawala pengetahuan dapat dicari dengan mengakses dari internet.
      (Jawaban untuk pertanyan ketiga) Mengenai sekolah yang berada dipinggiran kota, tentunya bisa kita bayangkan sulit untuk menggunakan model pembelajaran berbasis Web (E-Learning) ini. Masalah yang dihadapi sekolah-sekolah pinggiran kota ini biasanya mengenai ketidaksediaan fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer). Oleh karena itu, guru yang mengajar disana harus bisa memilih model pembelajaran yang sesuai untuk situasi dan kondisi sekolah disana, tidak perlu memaksakan untuk memakai model pembelajaran berbasis Web (E-Learning) ini. Namun,tidak ada salahnya juga jika guru ingin memperkenalkan hal-hal yang berkaitan dengan internet.
      Terima kasih.

      Hapus
    4. Terima kasih kepada saudara siswanto adi saputro dan Mia aldina maulana atas tanggapannya.

      Hapus
  9. NAMA : RISDAWATI
    NIM : A1B110209

    Tadikan kelompok sudah menjelaskan tentang model-model pembelajaran.Nah, Bagaimana kah kalaunya kita diminta mengajar di Sekolah Luar Biasa, Apakah model-model tersebut dapat diterapkan atau tidak dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut, Misalnya dapat diterapkan, model apa yang tepat dalam proses pemebalajaran tersebut.
    Berikan penjelasan menurut kelompok?
    Terimakasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika diminta mengajar di Sekolah Luar Biasa, model-model tersebut bisa saja diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah tersebut, karena model yang digunakan pada sekolah luar biasa hampir mirip saja dengan sekolah umumnya. hanya saja model pembelajaran terhadap peserta didik berkebutuhan khusus yang di persiapkan oleh guru di sekolah, di tujukan agar peserta didik mampu berinteraksi terhadap lingkungan sosial. Pembelajaran tersebut disusun secara khusus melalui penggalian kemampuan diri peserta didik yang didasarkan pada kurikulum berbasis kompetensi. Kompetensi ini terdiri atas empat ranah yang perlu diukur meliputi kompetensi fisik, kompetensi afektif, kompetensi sehari- hari dan kompetensi akademik.

      a. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra
      1) Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf.
      2)Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
      3) Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
      4) Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
      5) Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.

      b. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita
      Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;
      1. Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
      2. Strategi kooperatif
      3. Strategi modifikasi tingkah laku

      c. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa
      Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut:
      1. Pendidikan integrasi (terpadu)
      2. Pendidikan segresi (terpisah)
      3. Penataan lingkungan belajar

      d. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras
      Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut;
      1. Model biogenetic
      2. Model behavioral/tingkah laku
      3. Model psikodinamika
      4. Model ekologis

      e. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu
      Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.

      Dalam proses belajar mengajar sekolah biasa banyak metode-metode pendukung yang bisa digunakan oleh para pengajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tergantung situasi dan kondisi yang ada didalam kelas tersebut.
      Sementara dalam proses belajar mengajar sekolah luar biasa, terdapat juga metode-metode yang khusus, namun terlihat jelas dari segi cara pemahaman oleh siswa dalam menangkap apa-apa yang dijelaskan oleh pengajar atau guru, terkadang guru sulit untuk membuat siswa memahami sepenuhnya tentang apa yang disampaikan guru, untuk itu peran interpersonal guru sangat diperlukan, agar tetap mengajar dengan penuh kesabaran, ini akan member output yang lebih baik kepada siswa.
      terima kasih.

      Hapus
  10. Abdul Gani
    A1B108256

    Saya ingin bertanya, apabila kita mengajar dalam suatu kelas yang mayoritas murid-muridnya pendiam/sulit diajak untuk berkomunikasi dengan kita, maka model pembelajaran yang seperti apakah yang cocok untuk kita lakukan agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan efektif? Tolong berikan penjelasan dan alasannya! Trims.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apabila kita mengajar dalam suatu kelas yang mayoritas murid-muridnya pendiam/sulit diajak berkomunikasi dengan kita, maka model pembelajar yang cocok untuk kita lakukan agar proses belajar-mengajar tetap berjalan dengan efektif yaitu model pembelajaran kooperatif karena model pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam suatu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Dengan adanya interaksi sesama individu siswa mampu aktif. Selain itu, model pembelajaran koooperatif merupakan model pembelajaran yang banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli. Hal ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Slavin (1995) dinyatakan bahwa; (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan menghargai pendapat orang lain. (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, diharapkan mampu membuat siswa yang diam menjadi lebih aktif. terima kasih.

      Hapus
  11. Okta Maria Ulva
    NIM A1B110216

    Seberapa besar pengaruh model tersebut bagi duni pendidikan itu sendiri. Terimakasih

    BalasHapus
  12. Seberapa besar pengaruh model-model pembelajaran dalam dunia pendidikin itu tidak bisa di ukur seberapa besarnya, tetapi pengaruh tersebut sangat berperan penting bagi dunia pendidikan tergantung pada model-model pembelajaran yang dipilih yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan.

    BalasHapus
  13. Nama : Mustahib
    Nim : A1B110205

    Berhubung dalam materi ini semua sudah terjabarkan oleh kelompok atau teman-teman yang sudah menanggapi. Nah disini ulun sedikit minta tanggapan dari kelompok seberapa besar sih pengaruh PAIKEM dalam dunia pendidikan. terimaksih

    BalasHapus
    Balasan
    1. PAIKEM berpengaruh besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam proses belajar mengajar. Paikem (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan adalah pembelajaran bermakna yang dikembangkan dengan cara membantu peserta didik membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lain) yang telah dimiliki dan dikuasai peserta didik. Peserta didik dibelajarkan bagaimana mereka mempelajari konsep dan bagaimana konsep tersebut dapat dipergunakan di luar kelas. terima kasih.

      Hapus
  14. Nama : Abdul Hamid
    Nim :A1B110201

    Menurut kelompok penerapan PAIKEM di indonsia apakah sudah berjalan dengan sesuai rencana yang diinginkan atau belum sesuai?
    Sahabatku kelompok 8 jelaskan secara sederhana saja... terimakasih sahabatku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut kami penerapan PAKEM di Indonesia sudah berjalan sesuai dengan rencana yang diinginkan karena model pembelajaran yang sangat cocok dan menarik serta mampu membangkitkan kreativitas peserta didik pada pembelajaran saat ini adalah model pembelajaran PAKEM.

      Model pembelajaran PAKEM adalah model pembelajaran yang tertumpu pada empat prinsip yaitu aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Model PAKEM berorientasi pada proses dan tujuan. Artinya peserta didik diikutsertakan dalam berbagai kegiatan pembelajaran dan diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan mental peserta didik dalam proses belajar mengajar.

      Hapus
  15. M. fathuraman
    NIM A1B110254

    Kelompok menjelaskan maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Jadi yang saya tanyakan adalah bagaimana kalau siswa mau bertanya kepada temannya terus temannya itu tidak mau memberikan pelajaran yang ditanyakan oleh siswa yang bertanya itu, karena temannya itu ingin pintar sendiri terhadap pelajaran tersebut. Tolong kelompok berikan tanggapan bagaimana solusinya? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nama: Mia Aldina Maulana
      NIM: A1B110225

      Menanggapi pertanyaan dari M. Fathurahman. Jika ada teman yang bila ditanya mengenai sesuatu tentang pelajaran, tetapi dia tidak mau menjawab karena ingin pintar sendiri terhadap pelajaran tersebut. Menurut saya, hal itu menunjukkan kurangnya kerja sama atau rasa saling membutuhkan dalam suatu kelompok belajar. Namun, teman yang bertanya tersebut jangan berkecil hati pada teman yang tidak mau memberi pelajaran. Jadikan saja hal itu sebagai motivasi diri untuk lebih giat belajar, buktikan bahwa diri Anda juga mampu untuk mempelajari pelajaran tersebut. Lagipula sumber belajar dalam komunitas masyarakat belajar tidak hanya dari satu orang teman itu saja kan, pasti ada teman-teman lain yang lebih mudah untuk diajak bekerjasama dalam belajar.
      Namun, perlu juga diperhatikan bahwa kita tidak boleh menyimpulkan bahwa seseorang itu ingin pintar sendiri jika tidak mau menjawab pertanyaan temannya. Bisa jadi, orang tersebut sedang tidak siap ditanyai, lupa tentang jawaban yang benar sehingga merasa ragu untuk menjawab, atau sedang dalam situasi maupun kondisi yang tidak memungkinkannya untuk menjawab pertanyaan Anda dengan baik (misalnya: sakit).
      Terima kasih.

      Hapus
    2. NAMA : SISWANTO ADI SAPUTRO
      NIM : A1B110233

      Mencoba menanggapi pertanyaan dari saudara M. Fathuraman yang menanyakan bagaimana kalau siswa mau bertanya kepada temannya terus temannya itu tidak mau memberikan pelajaran yang ditanyakan oleh siswa yang bertanya itu, karena temannya itu ingin pintar sendiri terhadap pelajaran tersebut. Bagaimana solusinya

      Menurut saya mungkin ada dua kemungkinan kenapa siswa yang bertanya kepada temannya sendiri namun temannya tersebut tidak mau membatu atau memberikan jawaban atas pertanyaannya, yaitu yang pertama bisa saja temannya tersebut tidak tau juga dengan jawaban dari pertanyaan yang diberiakan kepadanya jadi dia tidak mau membantu kemudian yang kedua bisa saja seperti yang dikatakan oleh M. Fathuraman tadi yang ingin pintar sendiri tidak mau berbagi ilmu kepada sesama temannya. Kemudian kalau ditanya solusinya, menurut saya adalah kalau teman yang satu ini ditanya tidak bisa membantu bisa saja bertannya lagi dengan teman yang lain yang mungkin bisa membatu atau bisa juga langsung bertanya dengan orang yang lebih tau seperti menanyakan langsung kepada gurunya atau mungkin kalau ingin lebih tau lagi bisa saja dengan cara berusaha mencari jawaban sendiri karena itu akan lebih bagus lagi.. Terimakasih

      Hapus
    3. terima kasih kepada saudari Mia aldina maulana yang telah menanggapi pertanyaan M. fatturrahman.

      menurut kami, dalam interaksi belajar mengajar siwa diharpkan mampu tanya jawab baik itu kepada siswa lainya ataupun guru. jika siswa bertanya kepada teman sekelasnya dan teman tersebut tidak mau menjelaskan materi atau berbagi ilmu. alangkah baiknya siswa tersebut bertanya langsung pada guru, karena guru tidak akan mungkin membiarkan siswanya merasa kebingungan.

      Hapus
    4. terima kasih juga kepada saudara siswanto adi saputro atas tanggapannya.

      Hapus
  16. Maaf teman-teman sesi tanya jawab kami cukupkan sampai di sini dulu. Terima kasih atas partisipasi dari kalian. :)

    BalasHapus